Selasa, 28 April 2015

“Pengaruh Obat-obatan dan Narkotik terhadap Sistem Saraf”

Diposting oleh Dita andina di 05.42
MAKALAH
 
 






“Pengaruh Obat-obatan dan Narkotik terhadap Sistem Saraf”










Disusun oleh :
Nama              : Dita Andina
Kelas               : XI IPA 2
NIS                  : 131188
No. urut          : 12
Mata pelajaran: Biologi
Guru B.Studi    :ibu Warniaty S.Pd


SMA NEGERI 11 MAKASSAR
TAHUN 2015

Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat ALLAH SWT. Atas berkat dan rahmat-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas Biologi tentang makalah yang berjudul “Pengaruh Obat-obatan dan Narkotik terhadap Sistem Saraf”. Shalawat yang senantiasa yang senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW serta keluarga dan sahabat beliau.
Kami juga menyadari makalah ini tidak mungkin terselesaikan tanpa partisipasi semua pihak. Untuk itu kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada ibu Warniaty S.Pd sebagai guru bidang studi Biologi yang telah membimbing kami sehingga kami bisa menyelesaikan makalah ini
Suatu kebahagiaan tersendiri bagi kami dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini meskipun melalui perjuangan dan berat dan sedikit menyita waktu, namun berkat doa dan dukungan dari semua pihak terutama keluarga, dan sahabat-sahabat, kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik.
Meskipun disadari Makalah ini jauh dari kesempurnaan namun harapan kami semoga dapat bermanfaat bagi rekan-rekan XI IPA 2.


Makassar,      April 2015



Penulis



DAFTAR ISI

PENDAHULUAN


1.1         Latar Belakang

Dewasa ini semakin marak penyalahgunaan obat-obatan narkotika. Para pengguna narkotika tidak peduli lagi terhadap efek obat-obatan tersebut. Awalnya obat-obatan tersebut memberi pengaruh nikmat pada tubuh. Akan tetapi, pengaruh tersebut tidak seimbang dengan risiko yang akan ditanggung oleh pengguna. 
Sistem saraf, terutama kerja otak, mudah sekali dipengaruhi oleh obat-obatan dan narkotika. Saat ini jenis obat yang dilarang penggunaannya secara bebas disingkat manjadi Napza (Narkotika, Psikotropika, dan zat adiktif lainnya).
Obat adalah suatu bahan yang berbentuk padat atau cair atau gas yang menyebabkan pengaruh terjadinya perubahan fisik dan atau psykologik pada tubuh. Hampir semua obat berpengaruh terhadap sistem saraf pusat. Obat tersebut bereaksi terhadap otak dan dapat mempengaruhi pikiran seseorang yaitu perasaan atau tingkah laku, hal ini disebut obat psykoaktif.
Obat dapat berasal dari berbagai sumber. Banyak diperoleh dari ekstraksi tanaman, misalnya nikotin dalam tembakau, kofein dari kopi dan kokain dari tanaman koka. Morfin dan kodein diperoleh dari tanaman opium, sedangkan heroin dibuat dari morfin dan kodein. Marijuana berasal dari daun, tangkai atau biji dari tanaman kanabis (canabis sativum) sedangkan hashis dan minyak hash berasal dari resin tanaman tersebut, begitu juga ganja.

1.2         Rumusan masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya,maka permasalahan pokok penelitian ini adalah :
1.    Apa yang dimaksud dengan sistem saraf?
2.    Apa yang dimaksud dengan obat-obatan dan narkotika?
3.    Apa saja Jenis-jenis Obat-obatan yang Berpengaruh pada Sistem Saraf?
4.    Bagaimanakah Pengaruh Narkoba pada Sistem Saraf?
5.    Bagaimanakah Cara Mengatasi Kecanduan Obat-obatan dan Narkotika?

1.3         Tujuan dan manfaat

a.    Tujuan
Tujuan yang utama untuk mengembangkan materi pembelajaran biologi dan agar dapat mencapai tujuan pembelajaran yaitu mengetahui pengaruh narkotik bagi sistem saraf.
b.    Manfaat
1.    Agar teman-teman mengetahui apa yang dimaksud dengan sistem saraf
2.    Agar teman-teman dapat mengetahui apa yang dimaksud dari obat-obatan dan narkotik
3.    Agar teman-teman dapat mengerti apa saja jenis-jenis obat-obatan yang berpengaruh pada saraf
4.    Agar teman-teman dapat mengerti dan mengetahui pengaruh dari obat-obatan dan narkotik bagi sistem saraf
5.    Agar teman-teman dapat mengetahui bagaimana cara mengatasi kecanduan obat-obatan dan narkotika



BAB II

PEMBAHASAN

2.1         Sistem Saraf

Sistem saraf merupakan salah satu sistem koordinasi yang bertugas menyampaikan rangsangan dari reseptor untuk dideteksi dan direspon oleh tubuh. Sistem saraf memungkinkan makhluk hidup tanggap dengan cepat terhadap perubahan-perubahan yang terjadi di lingkungan luar maupun dalam.
Untuk menanggapi rangsangan, ada tiga komponen yang harus dimiliki oleh sistem saraf, yaitu:
Reseptor, adalah alat penerima rangsangan atau impuls. Pada tubuh kita yang bertindak sebagai reseptor adalah organ indera.
Penghantar impuls, dilakukan oleh saraf itu sendiri. Saraf tersusun dari berkas serabut penghubung (akson). Pada serabut penghubung terdapat sel-sel khusus yang memanjang dan meluas. Sel saraf disebut neuron.
Efektor, adalah bagian yang menanggapi rangsangan yang telah diantarkan oleh penghantar impuls. Efektor yang paling penting pada manusia adalah otot dan kelenjar
1.     Sel Saraf (Neuron)
Sistem saraf terdiri atas sel-sel saraf yang disebut neuron. Neuron bergabung membentuk suatu jaringan untuk mengantarkan impuls (rangsangan). Satu sel saraf tersusun dari badan sel, dendrit, dan akson.

2.    Impuls
Impuls adalah rangsangan atau pesan yang diterima oleh reseptor dari lingkungan luar, kemudian dibawa oleh neuron. Impuls dapat juga dikatakan sebagai serangkaian pulsa elektrik yang menjalari serabut saraf.
a.    Sistem saraf pusat

1)    Otak
Description: https://fembrisma.files.wordpress.com/2011/12/human_brain_major_internal_parts.jpg?w=627Otak merupakan alat tubuh yang sangat penting dan sebagai pusat pengatur dari segala kegiatan manusia. Otak terletak di dalam rongga tengkorak, beratnya lebih kurang 1/50 dari berat badan. Bagian utama otak adalah otak besar (Cerebrum), otak kecil (Cerebellum), dan batang otak.
Otak besar merupakan pusat pengendali kegiatan tubuh yang disadari. Berpikir, berbicara, melihat, bergerak, mengingat, dan mendengar termasuk kegitan tubuh yang disadari. Otak besar dibagi menjadi dua belahan, yaitu belahan kanan dan belahan kiri.
Masing-masing belahan pada otak tersebut disebut hemister. Otak besar belahan kanan mengatur dan mengendalikan kegiatan tubuh sebelah kiri, sedangkan otak belahan kiri mengatur dan mengendalikan bagian
tubuh sebelah kanan.
Otak kecil terletak di bagian belakang otak besar, tepatnya di bawah otak besar. Otak kecil terdiri atas dua lapisan, yaitu lapisan luar berwarna kelabu dan lapisan dalam berwarna putih. Otak kecil dibagi menjadi dua bagian, yaitu belahan kiri dan belahan kanan yang dihubungkan oleh jembatan varol. Otak kecil berfungsi sebagai pengatur keseimbangan tubuh dan mengkoordinasikan kerja otot ketika seseorang akan melakukan kegiatan.
Batang otak tersusun dari medula oblangata, pons, dan otak tengah. Batang otak terletak di depan otak kecil, di bawah otak besar, dan menjadi penghubung antara otak besar dan otak kecil. Batang otak disebut dengan sumsum lanjutan atau sumsum penghubung. Batang otak terbagi menjadi dua lapis, yaitu lapisan dalam dan luar berwarna kelabu karena banyak mengandung neuron. Lapisan luar berwarna putih, berisi neurit dan dendrit.
Fungsi dari batang otak adalah mengatur refleks fisiologis, seperti kecepatan napas, denyut jantung, suhu tubuh, tekanan, darah, dan kegiatan lain yang tidak disadari.
2) Sumsum tulang belakang
Sumsum tulang belakang terletak memanjang di dalam rongga tulang belakang, mulai dari ruas-ruas tulang leher sampai ruas-ruas tulang pinggang yang kedua. Sumsum tulang belakang terbagi menjadi dua lapis, yaitu lapisan luar berwana putih dan lapisan dalam berwarna kelabu. Lapisan luar mengandung serabut saraf dan lapisan dalam mengandung badan saraf.
Di dalam sumsum tulang belakang terdapat saraf sensorik, saraf motorik, dan saraf penghubung. Fungsinya adalah sebagai penghantar impuls dari otak dan ke otak serta sebagai pusat pengatur gerak refleks.
b.    Sistem Saraf Tepi
Sistem saraf tepi tersusun dari semua saraf yang membawa pesan dari dan ke sistem saraf pusat. Kerjasama antara sistem pusat dan sistem saraf tepi membentuk perubahan cepat dalam tubuh untuk merespon rangsangan dari lingkunganmu. Sistem saraf ini dibedakan menjadi sistem saraf somatis dan sistem saraf otonom.
1)    Sistem saraf somatic
2)    Sistem saraf otonom

2.2         Obat-obatan dan narkotika

Description: http://portal.cbn.net.id/UserFiles/Html/cybermed/narkoba/images/demerol.jpgMenurut UU No.22 Tahun 1997 tentang Narkotika disebutkan pengertian Narkotika adalah Narkotika adalah “zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan”.
Psikotropika adalah “zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku”. Bahan adiktif lainnya adalah “zat atau bahan lain bukan narkotika dan psikotropika yang berpengaruh pada kerja otak dan dapat menimbulkan ketergantungan”
Meskipun demikian, penting kiranya diketahui bahwa tidak semua jenis narkotika dan psikotropika dilarang penggunaannya. Karena cukup banyak pula narkotika dan psikotropika yang memiliki manfaat besar di bidang kedokteran dan untuk kepentingan pengembangan pengetahuan.
Menurut UU No.22 Tahun 1997 dan UU No.5 Tahun 1997, narkotika dan psikotropika yang termasuk dalam Golongan I merupakan jenis zat yang dikategorikan illegal. Akibat dari status illegalnya tersebut, siapapun yang memiliki, memproduksi, menggunakan, mendistribusikan dan/atau mengedarkan narkotika dan psikotropika Golongan I dapat dikenakan pidana sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.
Obat adalah suatu bahan yang berbentuk padat atau cair atau gas yang menyebabkan pengaruh terjadinya perubahan fisik dan atau psykologik pada tubuh. Hampir semua obat berpengaruh terhadap sistem saraf pusat. Obat tersebut bereaksi terhadap otak dan dapat mempengaruhi pikiran seseorang yaitu perasaan atau tingkah laku, hal ini disebut obat psykoaktif.

2.3         Jenis-jenis Obat-obatan yang Berpengaruh pada Sistem Saraf

Description: http://headsup.scholastic.com/sites/default/files/meds1.JPGObat dapat berasal dari berbagai sumber. Banyak diperoleh dari ekstraksi tanaman, misalnya nikotin dalam tembakau, kofein dari kopi dan kokain dari tanaman koka. Morfin dan kodein diperoleh dari tanaman opium, sedangkan heroin dibuat dari morfin dan kodein. Marijuana berasal dari daun, tangkai atau biji dari tanaman kanabis (canabis sativum) sedangkan hashis dan minyak hash berasal dari resin tanaman tersebut, begitu juga ganja.
Alkohol adalah suatu produk yang berasal dari bahan alami juga yang diproses melalui mekanisme fermentasi, itu terjadi bila buah, biji-bijian atau sayuran dibuat kompos. Jamur seperti mushroom dan beberapa jenis tanaman kaktus dapat diproses menjadi obat yang bersifat halusinogenik.
Obat yang berbahaya yang termasuk dalam kelompok obat yang berpengaruh pada system saraf pusat(SSP/CNS) adalah obat yang dapat menimbulkan ketagihan/adiksi (drug addict). Menurut klasifikasi umum obat yang berpengaruh pada SSP banyak jenisnya ada yang bersifat adiktif maupun yang non-adiktif.
1.      Obat Depresansia SSP
Obat yang termasuk golongan ini adalah obat yang berefek menghambat aktifitas SSP secara spesifik maupun umum. Yang termasuk menghambat SSP secara umum adalah obat dalam kelompok anastesi umum, dalam bab ini hal tersebut tidak dibahas. Yang dibahas adalah:
a)     Golongan obat sedative-hipnotik
Yang termasuk dalam golongan ini ialah obat yang yang menyebabkan depresi ringan (sedative) sampai terjadi efek tidur (hipnotika). Pada efek sedative penderita akan menjadi lebih tenang karena kepekaan kortek serebri berkurang. Disamping itu kewaspadaan terhadap lingkungan, aktivitas motorik dan reaksi spontan menurun.
Kondisi tersebut secara klinis gejalanya menunjukkan kelesuan dan rasa kantuk. Yang termasuk golongan obat sedative-hipnotik adalah Ethanol (alcohol)
b)   Golongan analgesic
Yang termasuk golongan obat analgesic adalah obat yang berefek pada penghilangan rasa nyeri (analgesic opioid) dan obat anti piretik serta obat anti inflamasi non-steroid. Sedangkan yang dibahas dalam bab ini adalah obat analgesic opioid karena kelompok obat tersebut dapat menimbulkan adiksi (ketagihan), misalnya:
Morphine, Codein, Pentazocine, Naloxone Dsb
2.    Obat stimulansia SSP
Obat yang termasuk golongan ini pada umumnya ada dua mekanisme yaitu:  Memblokade system penghambatan dan meninggikan perangsangan synopsis. Obat stimulansia ini bekerja pada system saraf dengan meningkatkan transmisi yang menuju atau meninggalkan otak. Stimulan tersebut dapat menyebabkan orang merasa tidak dapat tidur, selalu siaga dan penuh percaya diri.
Stimulan dapat meningkatkan denyut jantung, suhu tubuh dan tekanan darah. Pengaruh fisik lainnya adalah menurunkan nafsu makan, pupil dilatasi, banyak bicara, agitasi dan gangguan tidur. Bila pemberian stimulant berlebihan dapat menyebabkan kegelisahan, panic, sakit kepala, kejang perut, agresif dan paranoid.
      3.   Obat Halusinogenik
Obat halusinogenik berpengaruh terhadap persepsi bagi penggunanya. Orang yang mengkonsumsi obat tersebut akan menjadi orang yang sering berhalusinasi, misalnya mereka mendengar atau merasakan sesuatu yang ternyata tidak ada. Pengaruh obat halusinogenik ini sangat bervariasi, sehingga sulit diramalkan bagaimana atau kapan mereka mulai berhalusinasi.
Pengaruh lain dari obat halusinogenik ini ialah pupil dilatasi, aktifitas meningkat, banyak bicara atau tertawa, emosionil, psykologik euphoria, berkeringat, panic, paranoid, kehilangan kesadaran terhadap realitas, iraional, kejang lambung dan rasa mual.
a.    Peran dopamine
              Hampir semua obat adiktif, secara langsung atau tidak langsung, menyerangsistem imbalan otak dengan membanjiri sirkuit dengan dopamin. Sebagai orang yangterus overstimulate di "sirkuit hadiah", menyesuaikan otak ke besar lonjakan dopamindengan memproduksi kurang dari hormon atau dengan mengurangi jumlah reseptor disirkuit pahala.
              Akibatnya, dampak kimia di sirkuit pahala berkurang, mengurangikemampuan pelaku untuk menikmati hal-hal yang sebelumnya membawa kesenangan. Penurunan ini memaksa mereka kecanduan dopamin untuk meningkatkan konsumsiobat dalam rangka upaya untuk membawa hormon "merasa-baik" mereka ke tingkat normal - efek yang dikenal sebagai toleransi.
              Pengembangan toleransi dopamin akhirnya dapat mengakibatkan perubahan mendasar dalam neuron dan sirkuit otak, dengan potensi untuk sangat membahayakan kesehatan jangka panjang dari otak. Antipsikotik modern dirancang untuk memblokir fungsi dopamin. Sayangnya, pemblokiran ini juga bisa menyebabkan kambuh dalam depresi,dan dapat meningkatkan perilaku adiktif.
b.      Respon Stress
Selain rangkaian pahala, ada hipotesis bahwa mekanisme stres juga memainkan peran dalam kecanduan. Koob dan Kreek memiliki hipotesis bahwa selama penggunaan narkoba, faktor kortikotropin-releasing (PKR) mengaktifkan sumbu hipotalamus-hipofisis-adrenal (HPA) dan sistem stres lainnya dalam amigdala diperpanjang. Aktivasi ini mempengaruhi keadaan emosi dysregulated berkaitandengan kecanduan narkoba.
Mereka telah menemukan bahwa penggunaan narkoba meningkat, demikian juga kehadiran CRF dalam cairan cerebrospinal manusia (CSF). Pada model tikus, penggunaan terpisah antagonis CRF dan antagonis reseptor CRF baik menurun diri pemberian obat studi. Penelitian lain dalam tinjauan ini menunjukkan disregulasi hormon lain yang terkait dengan sumbu HPA, termasuk enkephalin yang merupakan peptida opioid endogen yang mengatur rasa sakit. Hal ini juga muncul bahwa sistem reseptor μ-opioid, yang enkephalin bertindak atas, adalah berpengaruh dalam sistem reward dan dapat mengatur ekspresi hormon stres.
c.    Neuroplastisitas
            Neuroplastisitas adalah mekanisme putatif balik belajar dan memori. Hal ini melibatkan perubahan fisik dalam sinaps antara dua neuron berkomunikasi, ditandai dengan peningkatan ekspresi gen, sel diubah sinyal, dan pembentukan sinapsis baruantara neuron berkomunikasi. Ketika obat adiktif yang hadir dalam sistem, mereka muncul untuk membajak mekanisme ini dalam sistem penghargaan sehingga motivasidiarahkan untuk pengadaan obat, dan bukan manfaat alami. Tergantung pada sejarah penggunaan narkoba, sinapsis rangsang dalam nucleus accumbens (NAC) mengalamidua jenis neuroplastisitas: potensiasi jangka panjang (LTP) dan depresi jangka panjang (LTD). Dengan menggunakan tikus sebagai model, Kourrich et al. menunjukkan bahwa paparan kronis kokain meningkatkan kekuatan sinapsis dalam NAC setelah periode penarikan 10-14 hari, sementara Synapses tampaknya tidak diperkuat dalam waktu penarikan 24 jam setelah paparan kokain berulang. Dosis tunggal kokain tidak menimbulkan apapun atribut dari sinaps diperkuat. Ketika tikus obat- berpengalaman ditantang dengan satu dosis kokain, depresi synaptic terjadi. Oleh karena itu, tampaknya sejarah paparan kokain bersama dengan kali penarikan mempengaruhi arah plastisitas glutamatergic di NAC.
Description: http://indonews01.com/wp-content/uploads/2014/02/Kerusakan-Otak.jpg
Description: D:\Semester 3\NAPZA\Narkoba m\soa_013.gifDescription: D:\Semester 3\NAPZA\Narkoba m\synapse2.gif
















2.4         Pengaruh Narkoba pada Sistem Saraf













Neurotransmiter adalah zat kimia yang memberikan informasi dan mengkomunikasikan dari otak ke tubuh.
Cara kerjanya adalah dengan me-relay signal antara neuron, otak menggunakan neurotransmitter untuk memerintah jantung untuk berdetak, paru-paru untuk bernafas dan perut untuk mencerna. Juga dapat menciptakan efek mood, tidur, konsentrasi, berat, dan dapat menyeimbangkan diri saat tidak stabil.
Stress, diet yang salah, toxin neuron, penyakit genetic, obat-obatan, alcohol, dan penggunaan kopi dapat menurunkan ke optimalannya.
Neurotransmiter terdapat dua bagian :
1.    Inhibitory: penyeimbang mood, dan mudah terpengaruh jika terlalu aktif.
2.    Excitatory: tidak terlihat namun dapat menstimulasi otak
terdiri dari: Dopamine – hasrat, norepinephrine – penurunan focus dan masalah tidur, epinephrine – gejala saat ini seperti stress yang lama dan insomnia.
Narkoba adalah akronim dari Narkotika dan obat-obat berbahaya yang berbe  ntuk zat kimia. Dalam bidang pengobatan medis, dikenal zat-zat kimia yang mampu mengurangi atau menghilangkan rasa sakit, namun tidak memiliki efek penyembuhan. Zat kimia itulah yang sering disalahgunakan karena pemakaian dengan dosis yang berlebihan akan berakibat buruk bagi kesehatan. Zat-zat kimia tersebut dapat menimbulkan kerusakan pada sistem saraf.
Ada empat macam obat yang berpengaruh terhadap sistem saraf, yaitu:
1.    Sedatif, yaitu golongan obat yang dapat mengakibatkan menurunnya aktivitas normal otak. Contohnya valium.
2.    Stimulans, yaitu golongan obat yang dapat mempercepat kerja otak. Contohnya kokain.
3.    Halusinogen, yaitu golongan obat yang mengakibatkan timbulnya penghayalan pada si pemakai. Contohnya ganja, ekstasi, dan sabu-sabu.
4.    Painkiller, yaitu golongan obat yang menekan bagian otak yang bertanggung jawab sebagai rasa sakit. Contohnya morfin dan heroin.
Penggunaan obat-obatan ini memiliki pengaruh terhadap kerja sistem saraf, misalnya hilangnya koordinasi tubuh, karena di dalam tubuh pemakai, kekurangan dopamin. Dopamin merupakan neurotransmitter yang terdapat di otak dan berperan penting dalam merambatkan impuls saraf ke sel saraf lainnya. Hal ini menyebabkan dopamin tidak dihasilkan. Apabila impuls saraf sampai pada bongkol sinapsis, maka gelembung-gelembung sinapsis akan mendekati membran presinapsis.
Namun karena dopamin tidak dihasilkan, neurotransmitter tidak dapat melepaskan isinya ke celah sinapsis sehingga impuls saraf yang dibawa tidak dapat menyebrang ke membran post sinapsis. Kondisi tersebut menyebabkan tidak terjadinya depolarisasi pada membran post sinapsis dan tidak terjadi potensial kerja karena impuls saraf tidak bisa merambat ke sel saraf berikutnya.
Efek lain dari penggunaan obat-obatan terlarang adalah hilangnya kendali otot gerak, kesadaran, denyut jantung melemah, hilangnya nafsu makan, terjadi kerusakan hati dan lambung, kerusakan alat respirasi, gemetar terus-menerus, terjadi kram perut dan bahkan mengakibatkan kematian.
Description: D:\Semester 3\NAPZA\Narkoba m\dopaminetransporters.gif
 









Ini adalah salah satu perbandingan antara otak yang normal/sehat dengan pengguna narkoba



2.5         Cara Mengatasi Kecanduan Obat-obatan dan Narkotika

Berbagai cara dikembangkan untuk mengatasi kecanduan obat-obatan terlarang. Dan penelitian terbaru menemukan bahwa ekstrak dari pohon kudzu dapat mengobati kecanduan kokain. Peneliti dari Gilead Sciences Inc menemukan bahwa ekstrak pohon kudzu yang sedang dikembangkan untuk mengobati kecanduan alkohol ternyata juga dapat mengobati kecanduan kokain. Gilead melanjutkan eksperimen obat ini sejak tahun lalu, ketika penelitian ini dibeli dari CV Therapeutics Inc.
Menurut hasil penelitian yang telah dipublikasikan pada jurnal Nature Medicine, menunjukkan bahwa obat ini dapat menghentikan adiksi terhadap penggunaan kokain. "Tidak ada pengobatan yang efektif untuk mengatasi kecanduan kokain, meskipun ilmu pengetahuan tentang neurobiologi dari kecanduan obat sudah luas," ujar Lina Yao, Ivan Diamond dan rekan, tim peneliti dari Gilead, seperti dilansir dari Reuters, Senin (23/8/2010).
Kudzu adalah obat yang sudah lama digunakan untuk mengatasi alkoholisme. Pohon anggur asli Asia ini telah menyebar di banyak daerah di Amerika tenggara, setelah diimpor untuk mengatasi erosi tanah.CV Therapeutics membuat ekstrak sintetik yang disebut dengan selective aldehyde dehydrogenase-2 inhibitor atau ALDH2i. Penelitian ini dinamai dengan CVT-10216. Berdasarkan uji yang dilakukan, ditemukan bahwa ekstrak kudzu dapat menghentikan kecanduan terhadap kokain dan bahkan dapat mencegah timbulnya kekambuhan setelah pengguna terbebas dari kokain.
Peneliti menemukan cara kerjanya, yaitu dengan meningkatkan senyawa yang disebut dengan tetrahydropapaveroline atau THP. Kecanduan kokain akan membuat level zat kimia otak yang disebut dopamin meningkat dan THP berperan untuk mengacaukan peningkatan dopamin tersebut. "Kami mengusulkan bahwa obat ini aman, selektif, reversibel ALDH-2 inhibitor seperti ALDH2i mungkin memiliki potensi untuk meredam kecanduan kokain manusia dan mencegahnya kambuh kembali," tulis peneliti.
Selain berbagai pengobatan alternative seperti diatas, untuk menyembuhkan para pencandu diperlukan terapi yang tepat dengan mengurangi konsumsi obat-obatan sedikit demi sedikit di bawah pengawasan dokter dan diperlukan dukungan moral dari keluarga serta lingkungannya yang diiringi oleh tekad si pemakai untuk segera sembuh. Dan hal yang paling penting adalah ditumbuhkannya nilai agama dalam diri si pemakai.
Banyak yang masih bisa dilakukan untuk mencegah remaja menyalahgunakan narkoba dan membantu remaja yang sudah terjerumus penyalahgunaan narkoba.
Pengelompokan solusi atas persoalan narkoba ini ke dalam dua komponen penting penyelenggara negara ini, yaitu pemerintah dan masyarakat.
Ada tiga tingkat intervensi yang dapat dilakukan pemerintah, yaitu:
1.         Primer, sebelum penyalahgunaan terjadi, biasanya dalam bentuk pendidikan, penyebaran informasi mengenai bahaya narkoba, pendekatan melalui keluarga, dll. Instansi pemerintah, seperti halnya BKKBN, lebih banyak berperan pada tahap intervensi ini. kegiatan dilakukan seputar pemberian informasi melalui berbagai bentuk materi KIE yang ditujukan kepada remaja langsung dan keluarga.
2.         Sekunder, pada saat penggunaan sudah terjadi dan diperlukan upaya penyembuhan (treatment). Fase ini meliputi: Fase penerimaan awal (initialintake)antara 1 – 3 hari dengan melakukan pemeriksaan fisik dan mental, dan Fase detoksifikasi dan terapi komplikasi medik, antara 1 – 3 minggu untuk melakukan pengurangan ketergantungan bahan-bahan adiktif secara bertahap.
3.         Tersier, yaitu upaya untuk merehabilitasi merekayang sudah memakai dan dalam proses penyembuhan. Tahap ini biasanya terdiri atas Fase stabilisasi, antara 3-12 bulan, untuk mempersiapkan pengguna kembali ke masyarakat, dan Fase sosialiasi dalam masyarakat, agar mantan penyalahguna narkoba mampu mengembangkan kehidupan yang bermakna di masyarakat. Tahap ini biasanya berupa kegiatan konseling, membuat kelompok-kelompok dukungan, mengembangkan kegiatan alternatif, dll.
Adapun solusi alternatif yang dapat dilakukan oleh masyarakat (Non-pemerintah) dalam mengatasi masalah narkoba ini, adalah dengan menggunakan beberapa pendekatanyang diterapkan kepada mereka, baik yang belum ataupun yang sudah terjerat belitan narkoba.
Beberapa pendekatan yang penulis maksud adalah sebagai berikut:
1.    Pendekatan agama (religius). Melalui pendekatan ini, mereka yang masih ‘bersih’ dari dunia narkoba, senantiasa ditanamkan ajaran agama yang mereka anut. Agama apa pun, tidak ada yang menghendaki pemeluknya untuk merusak dirinya, masa depannya, serta kehidupannya. Setiap agama mengajarkan pemeluknya untuk menegakkan kebaikan, menghindari kerusakan, baik pada dirinya, keluarganya, maupun lingkungan sekitarnya. Sedangkan bagi merekayang sudah terlanjur masuk dalam kubangan narkoba, hendaknya diingatkan kembali nilai-nilai yang terkandung di dalam ajaran agama yang mereka yakini. Dengan jalan demikian, diharapkan ajaran agama yang pernah tertanam dalam benak mereka mampu menggugah jiwa mereka untuk kembali ke jalan yang benar.
2.    Pendekatan psikologis. Dengan pendekatan ini, mereka yang belum terjamah ‘kenikmatan semu’ narkoba, diberikan nasihat dari ‘hati ke hati’ oleh orang-orang yang dekat dengannya, sesuai dengan karakter kepribadian mereka. Langkah persuasif melalui pendekatan psikologis ini diharapkan mampu menanamkan kesadaran dari dalam hati mereka untuk menjauhi dunia narkoba. Adapun bagi merekayang telah larut dalam ‘kehidupan gelap’ narkoba, melalui pendekatan ini dapat diketahui, apakah mereka masuk dalam kategori pribadiyang ekstrovert (terbuka), introvert (tertutup), atau sensitif. Dengan mengetahui latar belakang kepribadian mereka, maka pendekatan ini diharapkan mampu mengembalikan mereka pada kehidupan nyata, menyusun kembali kepingan perjalanan hidupyang sebelumnya berserakan, sehingga menjadi utuh kembali.
3.    Pendekatan sosial. Baik bagi mereka yang belum, maupun yang sudah masuk dalam ‘sisi kelam’ narkoba, melalui pendekatan ini disadarkan bahwa mereka merupakan bagian penting dalam keluarga dan lingkungannya. Dengan penanaman sikap seperti ini, maka mereka merasa bahwa kehadiran mereka di tengah keluarga dan masyarakat memiliki arti penting. Dengan beberapa pendekatan di atas, diharapkan mampu menggerakkan hati para remaja dan generasi mudayang masih ‘suci’ dari kelamnya dunia narkoba untuk tidak larut dalam trend pergaulan yang menyesatkan. Dan bagi mereka yang sudah tercebur ke dalam ‘kubangan’ dunia narkoba, melalui beberapa pendekatan tersebut, diharapkan dapat kembali sadar akan arti penting kehidupan ini, yang amat sayang jika digadaikan dengan kesenangan yang nisbi.
Dengan demikian, jika pemerintah dan masyarakat menjalankan fungsi dan perannya dengan baik, niscaya upaya memerangi narkoba serta menyelamatkan bangsa Indonesia dari “bahaya mematikan” narkoba akan menemui titik terang.





BAB III

PENUTUP

3.1         Kesimpulan

Sistem saraf merupakan salah satu sistem koordinasi yang bertugas menyampaikan rangsangan dari reseptor untuk dideteksi dan direspon oleh tubuh. Sistem saraf memungkinkan makhluk hidup tanggap dengan cepat terhadap perubahan-perubahan yang terjadi di lingkungan luar maupun dalam.
Menurut UU No.22 Tahun 1997 tentang Narkotika disebutkan pengertian Narkotika adalah Narkotika adalah “zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan”.
Psikotropika adalah “zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku”. Bahan adiktif lainnya adalah “zat atau bahan lain bukan narkotika dan psikotropika yang berpengaruh pada kerja otak dan dapat menimbulkan ketergantungan”
Penggunaan obat-obatan ini memiliki pengaruh terhadap kerja sistem saraf, misalnya hilangnya koordinasi tubuh, karena di dalam tubuh pemakai, kekurangan dopamin. Dopamin merupakan neurotransmitter yang terdapat di otak dan berperan penting dalam merambatkan impuls saraf ke sel saraf lainnya. Hal ini menyebabkan dopamin tidak dihasilkan. Apabila impuls saraf sampai pada bongkol sinapsis, maka gelembung-gelembung sinapsis akan mendekati membran presinapsis.
Namun karena dopamin tidak dihasilkan, neurotransmitter tidak dapat melepaskan isinya ke celah sinapsis sehingga impuls saraf yang dibawa tidak dapat menyebrang ke membran post sinapsis. Kondisi tersebut menyebabkan tidak terjadinya depolarisasi pada membran post sinapsis dan tidak terjadi potensial kerja karena impuls saraf tidak bisa merambat ke sel saraf berikutnya.
Efek lain dari penggunaan obat-obatan terlarang adalah hilangnya kendali otot gerak, kesadaran, denyut jantung melemah, hilangnya nafsu makan, terjadi kerusakan hati dan lambung, kerusakan alat respirasi, gemetar terus-menerus, terjadi kram perut dan bahkan mengakibatkan kematian.
Dapat ditarik kesimpulan bahwa penggunaan Narkoba dapat merusak sistem syaraf dan kerjanya yang akan mempengaruhi kerja seluruh fungsi tubuh. Hal ini merupakan jelas bahwa narkoba harus dihindari.

3.2         Saran

Untuk itu penulis menyarankan kepada pembaca untuk melakukan hal sebagai berikut:
1.    Pendekatan agama (religious)
2.    Pendekatan psikologis.
3.    Pendekatan sosial.




DAFTAR PUSTAKA

Bathn, Al.”Obat-obatan yang Memengaruhi Sistem Saraf”. Januari 2015.http://bangseko.blogspot.com/2015/01/obat-obatan-yang-memengaruhi-sistem-saraf.html

Zahrah, Ambar Kholida.”Pengaruh Narkoba pada Sistem Syaraf”. Desember 2013.http://khzahraa.blogspot.com/2013/12/pengaruh-narkoba-pada-sitem-syaraf.html

Arsyad, Adzhar. “Pengaruh Narkoba terhadap Sistem Saraf”. April 2014.http://adzhar-arsyad.blogspot.com/2014/04/pengaruh-narkoba-terhadap-sistem-saraf.html

No name. “ Pengaruh Narkoba dengan Sistem Saraf”. Mei 2013.http://faktasmansapurgan.blogspot.com/2013/05/pengaruh-narkoba-dengan-sistem-saraf.html

Fun, Vidhy. “Narkoba Mempengaruhi Kerja Otak”. Mei 2011.http://vidhyfun.blogspot.com/2011/05/narkoba-mempengaruhi-kerja-otak.html

Akim, Stefanus. “Narkoba Mempengaruhi Kerja Otak”. Februari 2008.https://stefanusakim.wordpress.com/2008/02/08/narkoba-mempengaruhi-kerja-otak/


0 komentar:

Posting Komentar

 

story of my life Copyright © 2011 Design by Ipietoon Blogger Template | Ugg Boots Sale | web hosting